Kategori
Society

Kesedihan yang Gak Perlu Dituangkan di Media Sosial

Kesedihan yang Gak Perlu Dituangkan di Media Sosial

Kesedihan yang Gak Perlu Dituangkan di Media Sosial – Media sosial adalah sebuah media daring yang digunakan satu sama lain yang para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, dan menciptakan isi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Setiap orang punya bentuk pertahanan diri tertentu dalam menyelesaikan masalah.

Jika orang dahulu biasa menyalurkan emosinya lewat diary atau blog pribadi, sekarang orang bisa leluasa membagikan lewat media sosial mereka. Semua pelepasan emosi sedih lewat media sosial, menurut penulis Rebecca Reid dalam The Conversation, erat kaitannya dengan istilah sadfishing, yang mana merupakan perilaku mengunggah materi sensitif emosional dan personal untuk mendapat simpati dan perhatian orang di internet.

Padahal gak setiap orang yang menjadi pengikut, memahami permasalahan yang dialami. Bahkan tak sedikit yang justru memberi komentar negatif atau melakukan perundungan siber (cyberbullying). Jika sudah tahu dampaknya, apa saja sih kesedihan yang gak perlu kamu tuangkan ke Daftar IDNPlay Online media sosial? Simak di artikel berikut, deh!

1. Kesedihan akibat keterasingan karena perubahan status persahabatan
5 Kesedihan yang Gak Perlu Dituangkan di Media Sosial, Jangan Diobral!

Banyaknya platform media sosial sekarang, seharusnya bisa kamu manfaatkan sebagai sarana ekspresi dan eksplorasi yang positif. Namun kemudahan akses dan umpan balik yang orang berikan, cukup menggiurkan untuk melepaskan emosi negatif, bahkan yang berhubungan dengan relasi persahabatan.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, buat apa mencari perhatian orang karena tragedi yang menimpamu? Syukur-syukur kalau ada yang peduli, tapi kalau justru banyak yang memberi label kamu lebay bagaimana?

Alangkah baiknya kamu curhat sama orang yang dipercaya daripada mencari perhatian di media sosial yang belum tentu orang memahaminya. Bukannya menerima simpati atau solusi, bisa jadi mereka jengah.

2. Kesedihan karena konflik hubungan romansa atau keluarga
5 Kesedihan yang Gak Perlu Dituangkan di Media Sosial, Jangan Diobral!

Banyak yang masih berharap jika ada yang mengerti dirinya setelah menceritakan pengalaman soal hubungan personal dan keluarga. Mungkin kalau itu untuk tujuan positif supaya jadi pelajaran bagi orang, boleh-boleh saja.

Tak menutup kemungkinan kamu justru lebih sedih lagi apabila tak satu pun dari mereka yang simpati. Masalah hubunganmu dengan pasangan sebaiknya cuma kamu dan dia yang tahu. Pun persoalan dengan keluarga karena ini merupakan ranah privat individu.

3. Kesedihan karena gagal memenuhi tuntutan, seperti dalam akademik
5 Kesedihan yang Gak Perlu Dituangkan di Media Sosial, Jangan Diobral!

Hidup ini bukan untuk meratapi kegagalanmu, apalagi buat urusan akademik. Sebab, yang namanya belajar itu pasti gak bisa lepas dari kegagalan. Setiap orang punya kelebihan dan kelemahan pada setiap bidang pelajaran.

Mengeluh boleh, tapi memberi tahu orang di media sosial tentang satu kegagalanmu itu kayaknya gak etis buat jadi kebiasaan. Bukankah justru dengan gagal, kamu bisa mengevaluasi diri dan lebih baik lagi? Kalau berhasil, baru pamerkan itu media sosial.

4. Kesedihan karena kerugian institusional atau masalah yang ada di kantor
5 Kesedihan yang Gak Perlu Dituangkan di Media Sosial, Jangan Diobral!

Dengan membagikan masalah personal terkait kantor, bikin kamu dinilai gak profesional dalam bekerja. Bayangkan jika apa yang kamu bagikan dilihat sama rekan, atasan, atau bawahan! Nanti mereka jadi segan karena kamu terlihat seperti tak mampu mengendalikan emosi.

Simpan baik-baik rasa marah, sedih, hingga kecewa itu dan ubah jadi bahan bakar untuk semangat menghadapi pekerjaan selanjutnya. Atau, kamu bisa menyalurkannya kepada support system dan orang yang kamu percaya.

5. Kesedihan karena pelepasan seperti habis putus
5 Kesedihan yang Gak Perlu Dituangkan di Media Sosial, Jangan Diobral!

Apa yang ada di benakmu ketika melihat teman mencurahkan perasaannya di media sosial karena habis putus? Kamu barangkali cuek dan berpikir bahwa itu hak dia, tapi gak setiap orang memiliki pemikiran seperti dirimu.

Ada dari pengikut mereka yang barangkali kurang nyaman dan menilai orang seperti itu memiliki pengendalian diri yang buruk. Kamu tentu gak mau bukan dicap seperti ini bukan?

Melepas emosi seperti kesedihan di media sosial, mungkin membuat lega sesaat. Tapi, itu gak menjamin masalah selesai atau orang lain mengerti keadaanmu.

Kategori
Society

Adab Bermedia Sosial Ini Perlu Kamu Terapkan Agar Tidak Menyakiti

Adab Bermedia Sosial Ini Perlu Kamu Terapkan Agar Tidak Menyakiti

Adab Bermedia Sosial Ini Perlu Kamu Terapkan Agar Tidak Menyakiti – Media sosial (sering disalahtuliskan sebagai sosial media) adalah sebuah media daring yang digunakan satu sama lain yang para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, dan menciptakan isi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.

Baru-baru ini kita dihebohkan dengan pemberitaan ulah warganet +62 yang ‘menyerang’ akun Microsoft setelah perusahaan di bidang komputer tersebut meluncurkan hasil surveinya. Dalam survei yang melibatkan 16.000 responden dari 32 negara, terungkap bahwa skor Digital Civility Index (DCI) 2020 negara kita adalah 76 poin.

Semakin tinggi angkanya, justru menunjukkan hasil yang tidak baik. Dan dari hasil survei tersebut, ketahuan bahwa kita adalah negara paling tak sopan se-Asia Tenggara. Bukannya introspeksi, malah dijadikan alasan untuk berkomentar negatif di akun Instagram Microsoft, sampai pihak mereka menutup kolom komentar. Duh!

Supaya kita gak terus-terusan di anggap sebagai netizen yang tak sopan dan amit-amit, sampai terkenal di luar negeri dan dicap demikian, perlu sekali bermedia sosial dengan APK Poker IDNPlay tetap beretika.

1. Hargai pendapat orang lain
5 Adab Bermedia Sosial Ini Perlu Kamu Terapkan, Anti Jempol Nyakitin!

Di era informasi yang tersebar sangat cepat dan luas ini, ada hal krusial yang perlu kita tanamkan dalam-dalam. Bahwa dunia ini memang beragam, sehingga perbedaan adalah keniscayaan.

Jadi, kalau lihat ada seorang yang komentar tidak sesuai dengan apa yang kamu yakini, gak usah ngegas. Namanya juga manusia yang memiliki pendidikan, latar belakang pengasuhan yang berbeda-beda, pastilah output pun beda.

Ketika melihat ada pemikiran yang berbeda, bersikaplah terbuka. Cobalah berpikir dari sudut pandang orang itu. Dengan demikian, akan terhindar dari perdebatan tak penting yang kemudian hanya menciptakan rasa bermusuhan.

2. Menghina itu tak menaikkan derajatmu lho!
5 Adab Bermedia Sosial Ini Perlu Kamu Terapkan, Anti Jempol Nyakitin!

Ada hal miris yang sering kita lihat di komentar-komentar media sosial dan membuat kita mengelus dada. Ketika ada seorang yang bertanya, langsung dibombardir dengan tuduhan ‘gak pintar’ atau ‘masa gitu aja gak tahu’.

Menghina orang yang bertanya tak membuatmu jadi tampak pintar, lho! Bahkan sebaliknya, hal itu menunjukkan kualitas karakter yang tak baik.

Justru bertanya saat tak tahu jauh lebih bijaksana dibanding pura-pura tahu atau malah sok tahu. Tipe orang yang demikian itu malah yang biasanya bikin rusuh. Keras kepala dengan apa yang ia sangka benar, padahal sih aslinya tak punya ilmu.

3. Pastikan dulu kebenaran berita, baru komentar
5 Adab Bermedia Sosial Ini Perlu Kamu Terapkan, Anti Jempol Nyakitin!

Menciptakan isu yang bisa bikin huru-hara itu sangatlah mudah. Modalnya jempol plus akun tak bernama. Apalagi kalau tipikal warganetnya mudah di hasut dan kental prasangka.

Saat melihat pemberitaan yang heboh, langsung komentar ini-itu padahal belum di cek kebenaran faktanya.

Biasakan untuk membaca dulu berita sampai lengkap, atau kroscek pemberitaan dulu, baru komentar. Jangan lihat judulnya saja sudah heboh bukan kepalang, padahal isinya tak demikian. Malunya gak nahan!

4. Berbahasalah layaknya di dunia nyata
5 Adab Bermedia Sosial Ini Perlu Kamu Terapkan, Anti Jempol Nyakitin!

Kita dulu terkenal dengan masyarakat yang santun. Sopan dalam bertindak dan bertutur kata. Lalu ke manakah semua nilai-nilai itu?

Cobalah terapkan nilai yang sama saat kita berkomunikasi di dunia maya. Jaga kata-kata dari ujaran kebencian atau kata kasar yang sangat tak sopan, dan kamu pun yakin kalau di dunia nyata, gak akan terlontar bahasa seperti itu.

Ingat lho, apa yang kita lakukan di dunia maya pun akan di pertanggung jawabkan nanti. Jangan sampai di dunia nyata kita terkenal baik, tapi amal kebaikan itu habis terkikis lantaran jempol yang sering nyakitin.

5. Kritikan itu wajar
5 Adab Bermedia Sosial Ini Perlu Kamu Terapkan, Anti Jempol Nyakitin!

Fenomena lain di medsos yang cukup miris adalah budaya anti-kritik. Ketika mengkritik seseorang, langsung di hujat dan di sangka yang bukan-bukan. Iri, dengki, sok alim, sok pintar, dan sebagainya.

Padahal kritikan itu selama di sampaikan dengan baik, harusnya di syukuri. Tandanya mereka peduli untuk melihatmu lebih baik lagi.

Coba terapkan hal-hal di atas saat kita bermedia sosial, maka tak akan lagi kita di cap sebagai penduduk yang tak sopan.

Kategori
internet

Pelajaran Penting dari ‘The Social Dilemma’ yang Buat Kita Hati-hati

Pelajaran Penting dari ‘The Social Dilemma’ yang Buat Kita Hati-hati

Pelajaran Penting dari ‘The Social Dilemma’ yang Buat Kita Hati-hati –  The Social Dilemma adalah film dokudrama arahan Jeff Orlowski tahun 2020 yang mengisahkan tentang perkembangan sosial media dan efeknya di masyarakat dunia. Dalam hal ini, The Social Dilemma berupaya mengangkat bagaimana perusahaan-perusahaan besar seperti Facebook, Instagram, Google, mengeksploitasi data-data pengguna.

Film ini membongkar bagaimana sosial media didesain untuk menumbuhkan adiksi kepada penggunanya dan membuat mereka cenderung mengabaikan keamanan data-data mereka sehingga rentan terhadap penggalian data. Apa hal pertama yang kamu lakukan saat bangun tidur? Sebagian besar dari kalian pasti akan menjawab, membuka ponsel pintar. Entah untuk sekadar mematikan bunyi alarm, memeriksa notifikasi, sampai menyempatkan diri untuk scrolling media sosial.

Media sosial telah menjadi bagian dari aplikasi idn poker open card kehidupan kita pada era ini. Tapi, apakah kamu tahu sisi lain dari teknologi tersebut? Dalam dokumenter “The Social Dilemma”, permasalahan ini dibahas. Dari topik tentang bagaimana algoritma bekerja, seberapa kuat peran iklan di internet, hingga dampak media sosial bagi kesehatan mental kita. Kalau penasaran, simak terus artikel di bawah ini!

1. Media sosial bersifat sangat adiktif. Hal ini menyerang siapa pun, termasuk anak-anak

Salah satu poin penting yang diangkat dalam film dokumenter berdurasi 93 menit ini adalah sifat adiksi dari media sosial. Hal ini dirasakan setiap ‘pengguna’-nya dan gak memandang latar usia.

Anak-anak di generasi sekarang telah mengenal gadget sejak usia yang sangat belia. Berdasarkan riset, hal tersebut membuat mereka jadi enggan untuk mencoba hal baru di luar comfort zone-nya. Mereka terpaku pada dunia di balik layar ponselnya.

2. Media sosial menciptakan standar kehidupan yang gak realistis

Saat membagikan konten di akun media sosial, beberapa orang akan mengunggah foto terbaik mereka guna menciptakan impresi yang bagus. Hal ini seakan jadi lumrah terjadi.

Ketika main media sosial, kita merasa terkoneksi dengan semua orang di internet. Seolah kita bisa menjangkau jarak yang sangat luas dalam waktu yang singkat. Akan tetapi, sisi lain dari hal ini adalah kita jadi punya standar kehidupan yang gak realistis.

Akan ada tendensi untuk membandingkan diri dengan orang lain dan mencoba mendapatkan apa yang mereka miliki juga. Mulai dari harta benda hingga standar kecantikan.

3. Secara gak langsung, turut memengaruhi kesehatan mental juga

Berhubungan dengan poin sebelumnya, tendensi untuk membandingkan kehidupan kita dengan orang lain, menciptakan rasa anxious dan ketidakpercayaan diri. Hal ini juga memiliki dampak yang besar terhadap anak-anak usia remaja.

Hate speech atau tindakan bully secara online yang kerap terjadi, ternyata juga meningkatkan jumlah self harm dan angka bunuh diri pada remaja di seluruh dunia.

4. Polarisasi opini publik yang meningkat dalam berbagai topik, termasuk politik

Dampak lain yang dirasakan adalah adanya polarisasi opini di tengah publik. Hal ini bisa kita lihat sendiri saat suasana menjelang pilkada atau pilpres di Indonesia.

Dalam kedua belah kubu, akan menyuarakan opini masing-masing secara lantang. Secara gak langsung, juga ada pihak-pihak yang coba menyerang atau melukai kelompok yang punya pandangan yang berbeda.

Tentunya, hal ini gak lantas membuat kita gak punya kebebasan beropini di media sosial. Tapi, yang perlu kita ketahui adalah bagaimana sistem algoritma di media sosial itu bekerja.

Setiap klik yang kita buat akan mengarah kepada bacaan atau tontonan tertentu. Lalu, semakin tinggi intensitas kita mengonsumi sebuah konten, maka rekomendasi konten serupa pun akan terus dihadirkan. Inilah yang membuat adanya polarisasi opini publik di media sosial.

Hal ini mungkin bisa menjawab keresahan kita selama ini tentang mengapa seseorang bisa punya pandangan yang bertolak belakang dengan kita. Jawabannya mungkin sesederhana konten yang mereka konsumsi berbeda dengan kita.

5. Selalu cross-check data yang didapatkan agar bisa menghindari hoax serta fake news

Lautan informasi yang ada di media sosial, kadang membuat kita merasa overwhelmed dengan situasi yang ada di dunia. Tetapi, hal itu gak bisa dijadikan pembenaran untuk kita malas mencari informasi yang sebenarnya.

Kita perlu memanfaatkan teknologi secara bijak. Salah satu caranya adalah dengan memeriksa setiap data yang kita dapatkan. Kebiasaan kecil ini bisa membuat kita terhindar dari konspirasi membahayakan, hoax yang beredar cepat, sampai fake news